PROLOG
Promise me no promises
So will I not promise you;
Keep we both our liberties,
Never false and never true:
Let us hold the die uncast,
Free to come as free to go;
For I cannot know your past,
And of mine what can you know?
(1861, Promises like Piecrust- Christina Rossetti)
Aku adalah pengembara dalam ruang waktu yang tak terbatas. Tidak ada horizon yang akan menghentikan langkahku, tidak ada musim yang akan mengistirahatkanku, tidak ada satupun pertanda yang akan membuatku berhenti mengarungi perjalananan ini. Bahkan tidak dengan rasa lelah. Aku tidak lelah, tidak ada yang mengizinkanku untuk merasa lelah. Sepanjang hidupku aku selalu menyimpan hasrat untuk memilikimu sebagai tempat peristirahatanku. Sejauh itulah aku mencintaimu, namun biarlah waktu menebasku dan melemahkanku…hingga suatu saat tiba masanya bagiku mengakhiri perjalanan ini, menutup seluruh kisahku dan melupakan perasaan cintaku padamu.
I
Paris, 18 Desember 2015
Aku bangun di pagi hari yang biasa dengan keadaan setengah telanjang, melihat semburat sinar matahari yang menembus gorden putih gading di sisi tempat tidurku. Setelah menggeliat sejenak dan mematikan alarm di atas cabinet aku mulai berjalan kearah kamar mandi di seberang ruangan. Kubasuh mukaku dengan air dingin yang mengucur dari keran wastafel. Omelan-omelan tanteku tentang pernikahan, berkeluarga dan tetek bengek semacam itu kembali terngiang di kepalaku. Aku geli sendiri memikirkan kesediaan beliau menghambur-hamburkan pulsa internasionalnya hanya untuk mengingatkanku untuk menikah. Keluargaku memang tergolong keluarga tradisional Jawa yang masih memegang prinsip-prinsip konvensional. Tentu saja keputusanku untuk melajang telah membuat sejumlah tetua di keluargaku merasa gerah. Orangtuaku sendiri sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan hal ini.
Terbayang kembali guratan wajah Ibuku yang tersenyum ikhlas ketika melepaskan anak perempuan satu-satunya pergi ke Paris, tempat asing yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesediaan beliau untuk melepaskanku adalah bentuk cinta dan pengertian yang terbesar bagiku. Beliaulah yang paling mengerti, bahwa keputusanku untuk pergi ke Paris bukan semata-mata untuk memenuhi ambisi karierku. Aku butuh tempat yang jauh untuk lari dari takdir yang sebenarnya tidak bisa aku terima. Di sini aku menjalani takdirku yang baru, menekan segala kenangan dan harapan masa lalu yang kadang, dalam sepi masih datang dan menggila.
Aku memejamkan mata dan merasakan dentam luka di dadaku masih terasa. Kubuka pancuran, membasahi rambutku dan mulai mandi, berharap segalanya ikut larut bersama air yang mengalir di seluruh tubuhku, menyisakan ketiadaan, yang kuharap bisa lebih menentramkanku.
17 November 2006
“Aku harus jawab apa dong Lin?”
“Lah kok nanya aku? Kamu sendiri ngerasanya gimana?”. Aku menggigit bibir, mencoba berpikir. Di saat membingungkan seperti ini aku harap Kalin, sahabatku dapat membantuku mencari jawaban.
“Heh! Kamu maunya gimana Rana? Kamu ngerasanya gimana?”
“Nggak tau…bingung…”
“Kok bingung?”
“Iya…masa mau aku jawab iya? Masa aku akhirnya jadian sama dia? Nggak mau Kalin…malu kalo anak-anak lain tau…”
“Yeee…makan tu gengsi. Emang apa salahnya si? Kamu malu, tapi paling nggak kamu nggak nyesel! Wong suka ya bilang aja suka….”
“Emang Abi suka cerita apa aja sama Kalin? Tadi aku liat sebelum pulang Kalin bisik-bisik sama Abi…Ngomongin apa?” Aku merasa ada sebersit perasaan cemburu di hatiku.
“Yaaaa ngomongin kamu Ranaaaaa! Aku sampe bosen dengerin dia curhat soal kamu mulu, ya udah aku suruh aja dia nembak kamu, gitu…tadi dia bingung mulainya mau gimana, jadi nanya aku dulu baiknya gimana.” Aku tersenyum simpul, merasa lega setelah mendengar kata-kata Kalin.
“Jadi nggak pa-pa aku bilang iya?”
“Nggak pa-pa”
“Abi serius suka sama aku?”
“Iya”
“Nggak pa-pa nih jadian sama musuh bebuyutanku sendiri?”
“Nggak pa-pa Ranaaaa….nggak usah dipikirin orang mau ngomong apa. Paling anak-anak cuma bakal ngeledekin doang. Terima aja lah…itung-itung resiko. Tapi yang penting kan kamu sama Abi sama-sama seneng”
“Iya….mmm udah dulu ya Kalin, makasih buat semuanya…”
“Oke, sama-sama. Jangan lupa makan-makannya!!!”
“Iyaaaa…bawel! Udah dulu..dadah. Assalamualaikum”
“Dah. Wa’alaikumsalam”
Kutekan tombol di tempat gagang telepon hingga kudengar suara yang menandakan sambungan teleponku dengan Kalin terputus. Setelah menghela napas kupencet nomor telepon yang beberapa minggu ini sudah kuhapal di luar kepala…
5 Mei 2007
Kira-kira sudah setengah tahun aku dan Abi berpacaran. Di masa awal kami jadian, seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, sebagian besar teman-temanku merasa tidak percaya, lalu habis-habisan meledek kami berdua. Bagaimana tidak? Kami berdua terkenal tidak pernah akur, padahal kami sudah satu sekolah sejak sekolah dasar hingga SMA. Kami seperti anjing dan kucing. Terlihat jauh seperti kutub utara dan kutub selatan. Tapi seperti cerita klise pada umumnya, kebencian yang kami simpan satu sama lain justru menumbuhkan perasaan sayang.
Untuk anak seusia kami, hubungan kami tergolong baik-baik saja. Adem ayem, jarang sekali kami bertengkar. Yaaaa perdebatan memang sudah jadi kebiasaan kami. Tapi jarang sekali kami meributkan hal-hal yang bisa melukai hati satu sama lain. Argumen-argumen dalam hubungan kami justru menjadi cara kami untuk saling berkomunikasi dan mengungkapkan rasa sayang. Mungkin karena awalnya kami bermusuhan. Aneh rasanya bicara dengan Abi tanpa memperdebatkan sesuatu. Namun pernah suatu ketika salah seorang teman bertanya pada kami
“Kok bisa sih kalian jadian? Aku ngeliat kalian kayak bumi sama langit gitu…” Aku cuma bisa tertawa menanggapi pertanyaan yang sebenarnya sudah jutaan kali aku dengar. Abi yang saat itu ada di sisiku langsung menukas,
“Loh bukannya bumi sama langit itu saling melengkapi? Makanya aku sama Rana akhirnya jadian, karena sebenarnya kita saling melengkapi.” Jawaban Abi membuat mukaku memerah. Teman-teman di sekitar kami menertawakan kata-kata Abi. Menyerukan ledekan-ledekan yang semakin membuat mukaku semakin memerah
“Halahhhhh….yang lagi jatuh cinta…..huhuahuahauh tapi sumpah corny banget Bi!”
Aku tersenyum lagi mengingat saat-saat itu. Sekarang tinggal menunggu bulan aku dan Abi harus berpisah. Setelah lulus nanti kami akan pergi ke universitas yang berbeda, mau tidak mau kami harus menjalani long distance relationship. Sepertinya akan berat sekali, apalagi aku dan Abi sudah terbiasa bersama. Lamunanku terhenti ketika kulihat Angga, salah satu sahabat Abi melintas di depanku
“Ngga! Liat Abi nggak?” Angga berhenti dan menghampiriku
“Nggak tuh..Aku baru dari kelasku. Kamu lagi nungguin Abi?”
“Iya…mau ngurusin ijazahnya Abi. Harus diambil duluan, soalnya minggu depan udah harus berangkat”
“Ooohh…yah ditinggal dong ya?” Aku cuma tersenyum kecil menanggapi pertanyaan retoris Angga.
“Kalo nggak salah kamu juga diterima di Yogya ya, Ngga?”
“Iya…kita satu kota kan ya?”
“Heeh..eh, banyak juga anak-anak yang satu kampus sama kamu?” Belum lagi Angga menjawab pertanyaanku, Abi muncul,
“Rana! Maaf tadi harus balik pulang lagi. Ada berkas-berkas yang ketinggalan” Abi menghampiriku sembari menyapa Angga dengan bahasa tubuhnya. Angga membalas, mengedikkan kepala
“Ngapain Ngga?”
“Barusan kumpul, bahas perpisahan kelas,” Abi mengangguk-anggukan kepalanya lalu memberikan tanda padaku agar aku mengikutinya
“Ya udah. Aku sama Rana ke kantor TU dulu ya?”
“Oke”
“Yuk,..” Aku melambaikan tangan kepada Angga yang dibalas dengan anggukan dan senyuman.
Desember 2015
Hari minggu yang cerah, saat yang tepat bagiku untuk melakukan hal yang kusukai, menyusuri Paris, menikmati setiap udara yang aku hirup dan mengetuk-ngetukkan stiletto hitamku di sepanjang trotoar, mengikuti irama musik jazz favorit yang mengalun dari earphone. Akhirnya aku berhenti di suatu kafe yang terletak di pinggir kota, La Boheme Du Tertre. Aku memilih tempat di sisi luar kafe agar pandanganku kearah jalanan kecil Montmartre lebih leluasa, duduk di bawah payung lebar berwarna putih dengan garis kerangka hitam. Sambil menopang dagu kunikmati latteku, memandangi bangunan La Mome Piaf yang berada tepat dihadapanku dan orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang Montmartre. Montmartre adalah salah satu tempat favoritku di Paris. Penuh dengan sisi artistik yang menakjubkan bagiku. Montmartre merupakan sebuah perkampungan kecil yang berada di sebelah utara Seine, sering disebut sebagai tempat berkumpulnya pekerja seni dan pusat kehidupan bohemian di Paris. Bagiku, melihat segala hal yang ada di Montmartre seperti melihat kilasan drama kehidupan, yang tragis namun ironisnya juga indah. Mungkin karena nuansa seni yang kental di tempat ini. Bagiku, seni juga demikian, sisi tragis justru semakin membuat suatu karya seni memiliki keindahan tersendiri. Lukisan, puisi, novel, drama, karya seni apapun yang lahir dari perasaan luka akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagiku. Montmartre sering menjadi tempat tujuanku untuk lari dari rutinitas pekerjaanku yang kaku dan penuh dengan aturan protokoler. Menjadi diplomat adalah cita-citaku sedari kecil, namun tak kusangka ada saatnya juga bagiku merasa gerah dan bosan menjalani profesi impianku ini. Tatapanku terhenti pada pasangan yang sudah kelihatan berumur. Mereka berjalan sambil berbisik dan tersenyum satu sama lain, saling menggenggam tangan, mesra sekali. Aku tersenyum, merasakan sedikit kehangatan dan rasa iri menelusup di dalam diriku.
“Bien aimee[1]…”, gumamku. Aku ingat, sebulan yang lalu aku mendapat kabar dari mantan pacarku, Abi, bahwa dia akan menikah dengan gadis yang selama ini dipacarinya sejak masa kuliah. Aku merasa ikut bahagia, dan meminta maaf padanya karena tidak bisa datang di hari pernikahannya karena masih harus menjalani masa dinasku di Paris.
Pada tahun kedua kami duduk di bangku kuliah, aku dan Abi memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami setelah mengalami masa-masa putus nyambung yang menyakitkan. Anehnya, setelah putus aku justru merasa lega. Aku tidak lagi menjalani malam-malamku dengan menangisi Abi, terluka karena sejumlah fakta dan informasi yang kudapatkan dari salah satu teman yang juga kuliah di kampus yang sama dengan Abi.
Aku sendiri sudah membuang jauh-jauh kemungkinan bagi diriku sendiri untuk menikah.
Kemungkinan? Aku tertawa kecil mendengar denial yang kuungkapkan dalam pikiranku sendiri. Mungkin tepatnya harapan…Di balik pikiranku yang complicated, prinsip-prinsipku yang independen, dan sikap mandiriku, sebenarnya aku seperti perempuan pada umumnya yang menginginkan perlindungan. Aku memiliki harapan tersendiri untuk menikah dengan laki-laki yang mencintaiku, memiliki anak-anak, dan hidup bahagia dengan segala jaminan perlindungan serta kenyamanan yang kudapatkan dari suami yang kucintai.
Sebenarnya ini merupakan ironi yang menggelikan, karena sebagian besar sahabatku yang sudah menikah seperti Kalin dan Amara kerap mengungkapkan padaku betapa irinya mereka dengan kehidupan yang kumiliki. Mereka selalu berharap memiliki kesempatan untuk mengejar karier, sebesar yang aku miliki. Mereka mendambakan hidupku, yang mereka bilang penuh dengan tantangan dan petualangan. Di sisi lain, di dalam hatiku, aku menginginkan segala hal yang mereka miliki, suami, anak-anak, kehidupan yang mereka anggap klise, merupakan impian terbesar bagiku.
Keputusanku untuk tidak menikah bukan disebabkan oleh Abi. Well, Abi punya porsi yang besar dalam hidupku. Tapi bukan berarti dia memilki proporsi untuk mendorongku mengambil keputusan sekrusial ini. Bagiku, Abi adalah kisah masa lalu yang bisa kubagi dengan orang lain dengan menambahi bumbu-bumbu lelucon untuk menertawai kebodohan-kebodohanku saat aku masih mencintainya. Ada alasan tersendiri di balik keputusanku untuk terus hidup sendiri…..
Yah, kurasa pekerjaanku sebagai diplomat membantuku menjadi lebih rasional. Terlalu rasional dan berhati-hati, mungkin. Seperti yang dikatakan Francois De Callieres,
“cest qualites sont un esprit attentif, et appliqué, qui ne se laisse point distraire par les plaisirs, & par les amusemens frivoles[2],..”
Paling tidak, dengan mindset dan pola hidup yang kujalani saat ini, tidak terlalu sulit bagiku menjalani pilihan untuk hidup melajang
Kulambaikan tanganku kepada pelayan yang berdiri di seberangku. Pelayan itu segera menghampiriku dan menyerahkan bon yang kuminta. Kutinggalkan sejumlah franc[3] dan kuberikan beberapa tip padanya
“Merci, mademoiselle[4]..” Pelayan itu berterima kasih sembari sedikit merendahkan badannya dan tersenyum padaku.
“je vous en prie[5],” aku membalas tersenyum “Au revoir[6]..”
“Au revoir, mademoiselle”
30 Juni 2008
Abi duduk di depanku. Kami sama-sama terdiam, tidak satupun kata yang kami ucapkan. Mungkin seluruh tenaga kami sama-sama telah habis. Pertengkaran kami selama setengah tahun terakhir ini memang meluluhlantakkan pertahanan dan kekuatan kami. Terutama kekuatan kami untuk sama-sama bertahan dalam hubungan ini. Semalam, melalui telepon sudah kukatakan padanya secara implisit mengenai keputusanku untuk mengakhiri hubungan kami. Aku tersenyum, berusaha membuka percakapan dengan nada yang kubuat seceria mungkin,
“Aduuuuh….mukamu kenapa nyeremin gitu, Bi?”, kucubit dan kutarik kedua pipinya, berusaha memaksanya untuk tersenyum. Sambil memasang muka lucu kuucapkan kata yang biasanya kami gunakan untuk membuat satu sama lain tersenyum saat salah satu dari kami ngambek,
“Bunnn….ciiiisssssss!!”
Abi meraih dan menggenggam tanganku di pipinya, memandangku dengan tatapan nelangsa. Lalu menarikku ke dalam pelukannya.
“Maafin aku Rana, Maafin aku…aku selalu bikin kamu nangis,….selalu nyakitin kamu,..”Abi berbisik di telingaku, kudengar suaranya tercekat. Bahu Abi yang aku rengkuh terasa bergetar. Hatiku tersayat, kurasakan segala kesedihan dan kekecewaanku yang selama ini terakumulasi menimpaku seperti godam besar, namun air mataku sudah habis. Aku tidak bisa lagi menangis. Kubelai lembut bahu Abi untuk menentramkannya. Abi memelukku semakin erat. Kubiarkan Abi menumpahkan sedu sedannya di dalam pelukanku. Pada saat kami saling melepaskan pelukan, aku mengecup bibirnya. Kami saling memagut untuk sesaat, lalu kulepaskan kecupanku, kubelai pipinya,
“Rana sayang Abi…”
“Abi juga sayang kamu Rana..”
Di hari itulah kami benar-benar berpisah.
31 Desember 2015
Jalanan Champs Elysees penuh sesak dipadati warga paris yang ingin menikmati malam tahun baru. Aku sendiri tidak punya cukup waktu. Ada sejumlah berkas-berkas dan laporan yang harus segera aku kirimkan ke Ditjen Eropa di Jakarta. Kebetulan aku terjebak di sini karena baru saja menghadiri art exhibitions yang diadakan pemerintah Perancis di The Grand Palais. Kualihkan pandanganku dari layar notebook, mengamati cahaya lampu di sepanjang Champ Elysees yang dihias semakin indah untuk menyambut natal dan tahun baru. Semburat cahaya yang berasal dari lampu mobil dan jalanan membuat bangunan Arc de Triomphe yang menjulang di hadapanku terlihat semakin megah dan dramatis. Sopir di depanku menunjuk ke barisan mobil yang membentang di hadapan kami.
“Think, we have to wait for long enough in this stupid traffic jam, Mam..”
“No worries Jacques, I can finish my report just here..”
“Don’t you feel tired after that entire pathetic schedule, Mam?” Jacques melirikku dengan sorot mata keheranan dari spion di atas kepalanya
“Me? Little bit, but there are so many task remains, etes vous fatigue, Jac[7]?” Jacques tertawa mendengar jawabanku,
“Non, mon ami[8]. I’m here to serve you, Mam. But no offense, normally someone will throw some curse in such conditions…you’re very patient Mam, too patient I think”
Aku tersenyum mendengar komentar Jacques.
“Hmmm…surely I enjoy this thing. Thanks’ God, I’m a workaholic” Jacques tertawa semakin seru mendengar jawabanku
“You have to escape from your job, sometimes. You know, to enjoy your life”
“I’m enjoying my life Jac, actually I have some quality time for myself on Sunday…”
“Hahahaha…yes, of course. Montemartre time huh?” Jacques menyinggung kebiasaanku nongkrong di Montemartre.
Aku menaikkan sebelah alis mataku,
“Yep. What is wrong with that?”
“You have to get a boyfriend, Mam…Surely.”
Aku tertawa keras mendengar saran Jacques
“I don’t need any boyfriend Jac. So yesterday for me, the end of era..”
“You mean, you don’t have any affection into man anymore? In love? Physically? All the way?”
Aku tertawa semakin keras
“Politely, you assume me as a lesbian, don’t you? Sorry, but nope. Seeing Wentworth Miller naked still turn me on, surely. But boyfriend isn’t good idea. Besides, it won’t work, considering my career.”
“Ahahahh…seems curious, Mam…no offense…Hmm, the France guy named Johann in the exhibition seems nice, Mam. Don’t you interest with him?”
“Ehemmm nope…” Aku mengedikkan bahu dan tertawa geli. Perkataan Jacques sekilas mengingatkanku pada pertemuanku dengan Johann, pria Perancis yang kukenal di acara art exhibition,
“Allo, bella..[9]”
“Allo..Ehm, je m’appelle Kirana[10]”
“Je m’apelle Johann. Enchante de faire votre connaissance. Tu es belle, Kirana[11]”
“Ah,Tu en inventes des choses…[12]”
“Non, Je suis inquietant[13]”
“Mmmm….merci beaucop[14]”
“Oui, bien sur…hmmmm can we have, ee…dinner, maybe?”
“Ahhh…pardon, je n’ai pa le temps. Il faut que je parte[15]
Aku buru-buru kabur dari pria Perancis dalam balutan setelan suit yang kelihatan mahal dan bergaya itu. Dolce&Gabbana, kurasa. Tidak heran melihat pria semacam itu di pusat fashion seperti Paris. Kesanku sendiri tentang Johann? Menurutku Johann adalah tipe pria Perancis pesolek yang memiliki kecenderungan womanizer. Jelas, jauh sekali dengan tipe pria yang kusukai. Aku ingat sebuah pickup line dalam sebuah sitcom Amerika yang kutonton di masa kuliah, getting sex with France is easy, just like playing tennis with the net down. First move, you do have dinner, then you do her. Aku menggelengkan kepala dan tersenyum.
“Ada-ada saja,..” batinku
“Pardon me for being rough spoken, Mam” Jacques tampak agak sedikit kikuk karena percakapan kami barusan
“Ca na fait rien[16]. I’ts ok Jac, I’m cool…”Aku tersenyum memaklumi. Aku kembali menekuni pekerjaanku. Jacques adalah pria Perancis berumur lima puluhan yang bekerja di Kantor Kedutaan sebagai sopir. Jacques merupakan pribadi yang menyenangkan, suka mengobrol dan ceria. Logat Perancisnya yang kental terdengar sangat menenangkan dan bersahabat. Suatu keberuntungan bagiku menemukan kawan di negeri asing.
Aku tidak memungkiri fakta bahwa terkadang aku merasa kesepian. Aku ingat sekali, ketika aku berpisah dengannya, aku takut sekali dengan rasa sepi, aku takut ketika aku sendiri. Karena pada saat-saat seperti itulah aku merasakan sakit yang luar biasa karena kehilangan sosoknya. Di sisi lain, aku merasa benci dengan sisiku yang lemah karena mencintai dia. Setengah mati aku berusaha menyibukkan diri dan mencari keramaian, aku tidak mau merasakan perasaan sakit itu, aku tidak mau melamunkan hal-hal yang sudah menjadi kenangan, aku tidak mau membenci diriku sendiri.
Aku kira tidak akan ada satupun manusia, terutama laki-laki yang akan memiliki kapasitas sedemikian besar untuk mengguncang hatiku. Ah, kenapa juga aku masih mengingatnya setelah bertahun-tahun ? Kukira dengan menjalani hari-hariku sebagai diplomat, pergi ke tempat-tempat jauh dimana aku bisa melarikan diri bisa membuatku menutup semua kenangan tentangnya. Nyatanya aku masih mengingatnya, masih mencintainya. Meskipun sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan rasa sepi. Terbiasa dengan ketidakhadirannya. Bagaimana tidak, sudah 5 tahun lebih sejak kami berpisah. Aku percaya bahwa semua hal telah berubah sekarang. Time following, people changing, and several things wouldn’t be the same anymore. Ya, memang seharusnya begitulah yang terjadi. That is how the life works.
Tapi kenapa aku masih mencintainya setelah sekian lama? Yah, aku selalu menanamkan keyakinan pada diriku sendiri, oke, well Kirana sekarang kamu masih stuck dengan perasaan ini tapi nanti akan ada saatnya kamu melupakan semuanya, seperti kamu melupakan Abi, seperti kamu melupakan apa yang kamu makan seminggu yang lalu. Masalahnya disini adalah, kapan semua itu bisa terjadi? Di saat aku masih muda dulu aku sangat khawatir mengenai waktu, bagaimana kalau aku menghabiskan waktuku untuk hal-hal, orang-orang, dan perasaan-perasaan yang tidak berguna ? Bagaimana kalau ternyata aku malah melewatkan hal-hal ‘besar’ ?
Mungkin sekarang aku bisa lebih santai. Mencintainya bukan berarti aku kehilangan hal-hal penting dalam hidupku. Merindukannya bukan berarti membuatku lemah. Gairah hidupku tidak hilang karena luka yang aku simpan. Aku bisa menjalani semua ini secara bersamaan. Hal terbaik yang bisa aku lakukan sekarang adalah menjalani semua yang aku miliki, meraih semua hal yang masih bisa aku raih, mengambil semua kesempatan yang ada di depan mataku, meskipun harus kehilangan dia dan sosoknya. Hanya masalah waktu, pada akhirnya aku akan melepaskan rasa cinta ini. Hanya masalah waktu…aku hanya perlu melalui perjalanan ini dengan baik.
[1] Kekasih
[2]Kemampuan untuk memperhatikan tiap perkataan dan pikiran yang dia miliki, yang mana dia tidak akan terseret ke dalam godaan tentang segala kesenangan dan hiburan yang sembrono.
[3] Mata uang Perancis
[4] Terima kasih, nona
[5] Terima kasih kembali
[6] Sampai jumpa
[7] Apakah kamu sudah merasa lelah, Jac ?
[8] Tidak, kawan
[9] Hai, cantik
[10] Halo, ehm, nama saya Kirana
[11] Nama saya Johann. Senang berkenalan denganmu. Kamu cantik, Kirana
[12] Ah, anda ada-ada saja
[13] Tidak, saya benar-benar serius mengatakannya
[14] Mmm..terima kasih banyak
[15] Ahh… maaf saya tidak punya banyak waktu. Saya harus pergi
[16] Tidak apa-apa
comments